Jumat, 30 November 2012
Kami Membuka Magang Agribisnis
Pelatihan Usaha Agribisnis Bagi Petani Sayur & Perikanan
Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan (P 4 S) Ngudi Ajining Tani Banjarmangu Banjarnegara telah membuka pelatihan Agribisnis Petani Cabe & Tomat untuk umum. Pelatihan yang terdiri dari: Budidaya Holtikultura khusus Cabe Tomat Hibrida & Timun, Vertikultur Organik, Perikanan dan Pasca Panen Pertanian dibimbing oleh Tenaga Pengajar Profesional.
Jenis Pelatihan:
- Budidaya Tomat
- Budidaya Cabe
- Budidaya Timun
- Budidaya Kambing dan Belut teori & Praktek
Materi:
- Pembibitan/Pengolahan Lahan
- Pemeliharaan/Perawatan/Pembedengan/Ocor
- Pembesaran/Perbanyakan
- Pemupukan
- Pembuatan media
- Hama Penyakit
- Analisa Usaha
- Pasca Panen/Pemasaran
Pelatihan Zdikir Qolbu
Perikanan
(Gurameh, Lele & Belut, Cacing)
Materi:
- Pembibitan
- Pemeliharaan/Perawatan
- Pembesaran/Perbanyakan
- Pembuatan media
- Hama Penyakit
- Analisa Usah
Biaya Pelatihan
No.Jenis Pelatihan (per Komoditas/Peserta)
5-10 orang/Peserta ≥ 11 orang
1.Tanaman Holtikultura tomat, timun & Cabe
Rp. 1.500.000,-Rp. 3.000.000,-
2.Perikanan
Rp. 1.800.000,-Rp. 3.500.000,-
3.Pasca Panen
Rp. 1.500.000,-Rp. 3.000.000,-
4.Vertikultur
Rp. 2.500.000,-Rp. 4.000.000,-
- Pelatihan berlangsung selama 1 sampai 5 hari.
- Bagi Peserta perorangan atau dibawah jumlah tersebut di atas
dapat menghubungi langsung P4 S Ngudi Ajining Tani Banjarmangu Banjarnegara
HP 085291637379/081323821396 Yang Beminat uang pendaftaran dapat ditranfer Rekening BRI Unit Banjarmangu nomer : 6613-01-004770-53-5 a.n Harmono Atau Nomer :0004-01-002281-53-1 BRI Cabang Banjarnegara a.n P 4 S Ngudi Ajining Tani
Kamis, 29 November 2012
Benarkah Petani Pahlawan Pangan, Siapa Peduli
Ketika saya mendengarkan paparan dari Petani sukses Tawa
Amanudin dalam succes story dari P4 S Cara Tani Kabupaten Kuningan Jawa Barat dalam acara pelatihan kewirausahaan agribisnis bagi pengelola P4S se Jawa di Hall PHI Hotel Semesta Semarang jawa tengah (26-30 Nopember) kemarin penulis bergerak untuk menulis artikel singkat sebuah coretan pendapat ini. Dalam vidio yang disajikan oleh penyaji petani sukses ini ada film bahwasannya empat petani dari Negara Sambia Benua Afrika ini belajar cara bercocok tanam padi di kegiatan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya yang ada di kuningan tersebut. Petani sambia tersebut tekun mempelajari pola tanam, pengolahan lahan, pemupukan, sampai pemanenan di salah satu Kabupaten di Jawa Barat tersebut.
Berdasarkan kasus tersebut berbalik terbalik dengan kondisi di Indonesia yang notabene Negara Agraris para generasi mudanya enggan belajar dan peduli serta mau menekuni dunia pertanian, padahal kalau menengok kisah tadi pertanian kita sudah diakui negara kita seperti Afrika tersebut. Karena keengganan kaum muda yang menekuni pekerjaan sebagai petani pelak sekarang tak dipungkiri produk pertanian dari negara luar sudah merambah negeri kita berbagai buah-buahan dari Tailand, bahkan Indonesia yang dulu swasembada beras mengimpor Beras Vietnam negeri komunis tersebut. Ketakutan penulis di Negeri Agraris akan hilang atau putus generasi manakala para generasinya enggan bercocok tanam.
Namun saya berkeyakinan negeri agraris ini takan hilang generasi petani, keyakinan itu bertambah setelah sesion hari berikutnya yang diperagakan sukses story dari P 4 S Tranggulsari Pitoyo Petani dari Dusun Selongisor Desa Batus Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang sebagai tempat pemagangan praktek para petani dari berbagai daerah. Dia sukses mengembanggkan pengelolaan Pemagangan pertanian dari Sayur organik, bahkan usahanya petani di sekitar bisa sejahtera dan mengurangi angka urbanisasi baik ke kota dalam Indonesia maupun menjadi TKI di negeri orang. Petani di sekitarnya bisa melakukan kegiatan rutinitas karena pasar sayur oganik terbuka adanya peluang back to nature, di syukuri sebagai peluang hasilnya dapat meningkatkan pendapatan. Petani di sekitar itu dapat beepenghasilan mulai bulanan sampai tahunan dengan budidaya sapi dan kotorannya serta urinnya dapat dimanfaatkan untuk keperluan tanaman sayur tersebut serta sudah dipasarkan sebagai pupuk organik yang anti pestisida.
Tulisan diatas bertuliskan tentang kepedulian kita pada pahlawan pangan (petani) diatas adalah kegundahan yang ada. Namun tepat rasanya bila kepedulian ini bukan berasal dari petani saja namun para pemangku kebijakan baik pusat maupun daerah. Momen ini tepat rasanya kalau ditarik ke pada suasana Pemilihan Gubernur Jawa Tengah Februari 2013, tepat rasanya kalau menantikan sosok pemimpin nomer satu di Jawa Tengah yang peduli terhadap petani. Ada beberapa kandidat yang akan diusung dari Partai politik maupun jalur perseorangan. Ada beberapa kandidat merupakan wajah lama atau pertahana (incumbent) seperti Bibit Waluyo (Gubernur Jateng), Rustriningsih (Wagub) dan Hadi Prabowo (Sekda Propinsi) yang dikabarkan akan maju. Menurut pendapat penulis ketiganya mempunyai kans untuk menjadi orang nomer satu di Jawa Tengah. Gubernur Jateng masih mendominasi popularitasnya karena ada keberhasilan dalam memimpin Jawa Tengah, yang tak dipungkiri pula keberhasilan pemerintahannya diperiode ini tak terlepas dari peran Rustriningsih Wagubnya dan Hadi Prabowo sebagai Sekdanya. Bibit waluyo dengan program balindeso mbangun ndeso sangat sukses dan ada juga yang belum tercapai, penulis berharap siapapun yang menjadi Gubernur mendatang harus peduli terhadap kaum petani yang merupakan penyangga pangan. Menurut hemat penulis kalau petani sejahtera, dan bisa menopang pangan Nasional insaallah penduduk Indonesia akan jaya dan Maju amin. HARMONO Penulis Peserta Diklat Agribis Kewirausahaan Pengelola P4 S Ngudi Ajining Tani Banjarnegara
Langganan:
Komentar (Atom)
